Perangkat

Membuat NAS Storage Murah dengan Zima OS

Dulu kalau mendengar kata NAS, yang langsung terbayang di kepala saya adalah perangkat seperti Synology dengan beberapa slot HDD yang harganya lumayan mahal. Belum lagi kita masih harus membeli HDD secara terpisah.

Padahal setelah saya coba sendiri, membuat NAS storage murah ternyata tidak sesulit dan semahal yang saya bayangkan.

Kita bahkan tidak harus membeli perangkat NAS khusus. Laptop lama, PC bekas, atau mini PC murah sebenarnya sudah bisa kita manfaatkan sebagai NAS. Tinggal tambahkan storage dan gunakan sistem operasi yang memang memudahkan pengelolaan server.

Salah satu yang menurut saya cukup menarik untuk kebutuhan ini adalah Zima OS.

Saya sendiri akhirnya membuat NAS menggunakan Lenovo ThinkCentre M90N-1 bekas yang saya beli di Shopee, Zima OS, serta beberapa HDD yang saya miliki. Hasilnya sudah cukup untuk kebutuhan penyimpanan file, backup, dan akses data dari perangkat lain di jaringan rumah.

NAS Itu Sebenarnya Apa?

NAS merupakan singkatan dari Network Attached Storage.

Kalau dibuat sederhana, NAS adalah tempat penyimpanan yang terhubung ke jaringan. Jadi kita tidak perlu mencolokkan HDD eksternal ke laptop setiap kali ingin mengambil file.

Misalnya saya punya beberapa laptop dan komputer di rumah. Daripada file tersimpan terpisah di masing-masing perangkat, saya bisa menyimpannya ke NAS.

Dari laptop, saya tinggal membuka folder NAS melalui jaringan.

Konsepnya kurang lebih seperti punya Google Drive atau cloud storage sendiri, hanya saja perangkat penyimpanannya berada di rumah.

NAS juga bisa saya gunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti:

  • menyimpan file kerja;
  • backup laptop dan komputer;
  • menyimpan foto serta video;
  • berbagi file ke perangkat lain;
  • menyimpan arsip website;
  • menjadi media server;
  • sampai menjalankan berbagai aplikasi self-hosted.

Bahkan Zima OS menyediakan dukungan file sharing melalui SMB sehingga storage dapat diakses melalui jaringan lokal dari Windows, Linux, maupun macOS. Zima OS juga menyediakan App Store untuk memasang berbagai aplikasi server.

Untuk kebutuhan saya sendiri, fungsi utama NAS tetap sederhana: storage terpusat dan backup.

Membuat NAS Tidak Harus Beli Synology atau NAS Branded

NAS branded seperti Synology, Ugreen NAS, QNAP, dan produk sejenis memang punya banyak kelebihan.

Kita mendapatkan perangkat yang memang dirancang sebagai NAS, bay HDD yang rapi, software yang matang, serta ekosistem yang sudah terintegrasi.

Kalau budget tersedia dan ingin sesuatu yang praktis, tentu tidak ada masalah membeli NAS branded.

Masalahnya, tidak semua orang membutuhkan semua fitur tersebut.

Kadang kita hanya membutuhkan storage yang bisa diakses melalui jaringan rumah dan menjadi tempat backup file.

Kalau kebutuhannya seperti itu, membeli NAS yang harganya jutaan rupiah belum tentu menjadi pilihan paling ekonomis.

Inilah alasan saya lebih tertarik mencoba membangun NAS storage murah sendiri.

Saya bisa menggunakan perangkat yang sudah tersedia atau membeli komputer second dengan harga murah.

Zima OS Membuat NAS DIY Jadi Lebih Mudah

Sebenarnya ada banyak sistem operasi yang bisa kita gunakan untuk membuat NAS.

Namun untuk pengguna yang belum terlalu familiar dengan server Linux, beberapa solusi terasa cukup teknis.

Saya akhirnya memilih Zima OS karena antarmukanya lebih mudah dipahami.

Setelah terpasang, sebagian besar pengelolaan bisa dilakukan melalui Web UI. Jadi saya tidak harus terus-menerus bekerja melalui terminal.

Zima OS

Zima OS juga memang dapat dipasang pada perangkat berbasis x86, bukan hanya perangkat keluaran Zima seperti ZimaBoard atau ZimaCube. Dokumentasi resminya menyediakan panduan instalasi Zima OS pada perangkat sendiri melalui USB installer.

Setelah Zima OS berjalan, kita bisa mengelola storage, membuat file sharing, memasang aplikasi, hingga mengatur RAID jika menggunakan beberapa drive. Single disk dan JBOD juga tersedia sehingga kita tidak wajib langsung membuat RAID.

Bagi saya, ini yang membuat Zima OS menarik.

Saya tetap mendapatkan fleksibilitas seperti sebuah home server, tetapi pengelolaannya tidak terlalu membuat pusing.

Perangkat Bekas Bisa Jadi NAS Storage Murah

Bagian paling menarik dari NAS DIY adalah kita tidak harus membeli komputer baru.

Kalau punya laptop bekas yang sudah jarang digunakan, sebenarnya perangkat tersebut sudah bisa menjadi titik awal.

Misalnya punya laptop lama dengan:

  • prosesor Intel atau AMD;
  • RAM 4 GB atau lebih;
  • SSD kecil untuk sistem;
  • port LAN;
  • dan USB untuk HDD eksternal.

Untuk file server sederhana, spesifikasi tersebut sudah bisa digunakan.

Selain laptop, saya justru lebih suka mini PC bekas.

Mini PC biasanya lebih ringkas dibanding PC desktop dan relatif hemat tempat. Kita juga bisa menemukan banyak mini PC second dari lini bisnis seperti Lenovo ThinkCentre, Dell OptiPlex Micro, atau HP Mini.

Saya sendiri memakai Lenovo ThinkCentre M90N-1. Ukurannya compact, mini, dan fanless, tidak berisik. Kalau mau beli juga, di sini. Harganya sekitar Rp 700ribuan saja.

Spesifikasinya : Prosesor Intel Celeron 4205U, RAM 4GB (onboard), Storage 128GB NVMe (bisa diupgrade). Port-port lengkap, ada 2 slot NVMe, dan yang penting port LAN sudah Gigabit (1Gbps).

Spesifikasi Thinkcentre M90n-1

Pengalaman Saya Membuat NAS dengan ThinkCentre M90N-1 dan Zima OS

ThinkCentre M90N-1 yang saya gunakan bukan mini PC dengan spesifikasi tinggi.

Perangkat saya hanya memiliki RAM 4 GB dan SSD internal 128 GB. Namun untuk menjalankan Zima OS dan fungsi NAS yang saya butuhkan, sejauh ini spesifikasinya sudah cukup.

Saya menggunakan SSD internal untuk sistem, sedangkan file utama saya simpan di HDD terpisah.

Setelah Zima OS terpasang, perangkat ini saya hubungkan ke router melalui LAN. Selanjutnya saya bisa membuka dashboard Zima OS melalui browser dari laptop.

Dari sana saya bisa melihat storage, mengatur file, serta menjalankan beberapa layanan.

Zima OS juga mendukung SMB, sehingga folder storage dapat saya mount di komputer. Hasilnya, HDD yang secara fisik terhubung ke NAS terasa seperti drive jaringan biasa ketika saya buka dari laptop.

Ini yang membuat NAS mulai terasa benar-benar berguna.

Saya tidak perlu lagi mengambil HDD, mencolokkannya ke laptop, menyalin file, lalu mencabutnya lagi.

Baca juga:  Keunggulan Mechanical Keyboard Dibanding Membran

Selama berada di jaringan yang sama, saya tinggal membuka folder NAS.

NAS Saya Tidak Berhenti di File Sharing

Setelah mencoba lebih jauh, ThinkCentre M90N-1 ini akhirnya tidak hanya saya pakai untuk menyimpan file.

Saya juga memanfaatkannya sebagai bagian dari sistem backup.

Salah satunya untuk menerima backup website dari VPS. Jadi selain backup yang berada di server, saya mempunyai salinan data lagi di storage sendiri.

Inilah salah satu hal yang kemudian membuat saya semakin menyadari manfaat NAS.

NAS bukan sekadar tempat menaruh file dokumen, foto, data lainnya. Untuk saya yang mengelola website, NAS juga bisa menjadi storage lokal untuk backup pekerjaan.

Dan semua itu berjalan dari mini PC bekas yang harganya jauh lebih murah dibanding membeli sebuah NAS baru.

Storage Tidak Harus HDD Baru

Komponen berikutnya yang cukup menguras budget ketika membuat NAS adalah HDD. Apalagi kalau langsung membeli beberapa HDD NAS berkapasitas besar.

Namun saya juga tidak beranggapan bahwa semua storage NAS harus baru.

Kalau mempunyai HDD lama yang kondisinya masih sehat, saya lebih memilih memanfaatkannya terlebih dahulu.

Kita juga bisa membeli HDD bekas berkualitas.

Kata kuncinya ada pada berkualitas.

Saya pribadi menghindari HDD refurbish yang riwayatnya tidak jelas hanya karena harganya sangat murah.

Kalau ingin membeli HDD second, setidaknya saya akan mengecek beberapa hal seperti:

  • SMART status;
  • jumlah bad sector;
  • Reallocated Sector Count;
  • Pending Sector;
  • Power-On Hours;
  • kondisi fisik HDD;
  • suara ketika HDD bekerja;
  • dan hasil SMART Short atau Extended Test.

Harga HDD murah memang menarik, tetapi data yang kita simpan jauh lebih berharga daripada selisih beberapa ratus ribu rupiah.

Oh ya, kalau mau beli HDD 3.5″, pastikan yang tipenya CMR, atau kalau ada budget, beli HDD khusus untuk NAS saja, seperti WD Red, Seagate Ironwolf, dll.

HDD Bekas Boleh, Tapi Jangan Lupakan Backup

Ada satu hal penting yang perlu saya tekankan.

NAS bukan berarti backup.

Misalnya semua file hanya saya simpan pada satu HDD di NAS. Kalau HDD tersebut rusak, file tetap bisa hilang.

Karena itu, setelah NAS mulai saya gunakan untuk menyimpan data penting, saya juga mulai memikirkan sistem backup berlapis.

Minimal saya ingin punya storage utama dan salinan di drive lain.

Untuk data yang benar-benar penting, saya juga lebih nyaman kalau masih memiliki salinan di lokasi lain atau cloud. Saya sendiri punya skema layer backup sendiri, kurang lebihnya seperti ini.

Layer Backup NAS

Zima OS sendiri menyediakan berbagai opsi penyimpanan dan backup, termasuk RAID, koneksi cloud drive, backup komputer, serta metode backup lain. Dokumentasi resminya bahkan menyediakan panduan pendekatan 3-2-1 backup.

Jadi kalau membuat NAS storage murah, kita boleh menghemat biaya hardware, tetapi sebaiknya jangan menghemat strategi backup.

Contoh Rancangan NAS Storage Murah

Kalau saya ingin memulai dari nol dengan budget terbatas, kira-kira komponennya bisa seperti ini:

KomponenPilihan Hemat
KomputerLaptop lama / Mini PC bekas
Sistem OperasiZima OS
Storage OSSSD kecil
Storage DataHDD bekas sehat
JaringanGigabit Ethernet
BackupHDD kedua / cloud

Tidak harus langsung sempurna.

Bahkan kita bisa mulai dari:

Mini PC + SSD sistem + satu HDD.

Setelah kebutuhan bertambah, baru tambahkan HDD kedua untuk backup.

Menurut saya, cara seperti ini jauh lebih masuk akal daripada menunda punya NAS hanya karena merasa harus membeli NAS empat bay plus beberapa HDD sekaligus.

NAS Zima OS
Ini NAS Zima OS saya menggunakan M90n-1 dan 3 HDD

Apa yang Bisa Dilakukan Setelah NAS Jadi?

Begitu NAS sudah berjalan, kegunaannya bisa berkembang sesuai kebutuhan.

Awalnya mungkin hanya sebagai tempat penyimpanan file.

Lama-lama kita bisa menggunakannya untuk:

  • Backup Laptop dan PC. File penting dari beberapa komputer bisa dikumpulkan ke satu tempat.
  • Berbagi File di Jaringan Rumah. Saya bisa membuka file dari komputer lain tanpa memindahkan HDD.
  • Backup Website. Ini salah satu yang saya gunakan sendiri. Backup dari VPS bisa disimpan lagi ke NAS lokal.
  • Media Server. Kalau mempunyai koleksi film atau musik, kita bisa memasang aplikasi seperti Jellyfin atau Plex. Zima OS menyediakan aplikasi server melalui App Store-nya.
  • Private Cloud. NAS juga bisa dikembangkan menjadi semacam cloud pribadi yang dapat diakses dari perangkat lain.
  • Menjalankan Aplikasi Self-Hosted. Kalau sudah mulai tertarik dunia homelab, NAS bisa berkembang menjadi home server.

Dan menurut saya, justru dari sini keseruannya mulai muncul.

Awalnya cuma ingin tempat backup file, lama-lama ingin mencoba berbagai layanan lain.

Kekurangan Membuat NAS Murah Sendiri

Tentu saya tidak ingin menggambarkan NAS DIY seolah-olah selalu lebih baik dibanding NAS branded.

Ada beberapa kompromi.

Pertama, kita harus merakit dan mengatur sendiri.

Kalau membeli Synology misalnya, hardware dan software memang sudah dibuat sebagai satu produk. Sementara pada NAS DIY, kita sendiri yang menentukan komputer, storage, koneksi, dan sistem operasinya.

Kedua, mini PC biasanya tidak menyediakan banyak SATA bay seperti NAS dedicated.

Kalau ingin menggunakan banyak HDD, kita perlu memikirkan koneksi tambahan, enclosure, atau metode lain.

Ketiga, perangkat bekas juga mempunyai risiko umur komponen.

Karena itu saya lebih suka memilih perangkat bekas yang kondisinya jelas daripada mengejar harga termurah.

Tetapi kalau saya bandingkan dengan biaya yang saya keluarkan, kompromi tersebut masih sangat masuk akal untuk kebutuhan saya.

Jadi, Apakah NAS Storage Murah dengan Zima OS Worth It?

Menurut pengalaman saya, iya, terutama kalau kebutuhan kita masih berada di kelas rumahan, personal, freelancer, atau home office.

Kita tidak harus langsung membeli NAS mahal.

Kalau mempunyai PC lama atau laptop yang sudah tidak digunakan, coba manfaatkan dulu.

Kalau ingin perangkat yang lebih ringkas, mini PC bekas seperti ThinkCentre M90N-1 juga menarik.

Kemudian pasang Zima OS dan gunakan HDD yang sudah dimiliki.

Kalaupun harus membeli HDD bekas, cari unit yang kondisinya bagus dan hindari produk refurbish dengan riwayat yang tidak jelas.

Saya sendiri awalnya hanya ingin mempunyai storage terpusat yang bisa digunakan untuk backup. Setelah mencoba Zima OS di ThinkCentre M90N-1, ternyata NAS rumahan bisa dibuat dengan cara yang jauh lebih sederhana dari yang sebelumnya saya bayangkan.

Pada akhirnya, NAS storage murah bukan berarti NAS asal-asalan.

Kita hanya memanfaatkan hardware secara lebih efisien.

Daripada laptop, mini PC, atau HDD lama hanya tersimpan di lemari, perangkat tersebut bisa mendapatkan fungsi baru sebagai storage pribadi yang selalu tersedia di jaringan rumah.

Dan menurut saya, untuk mulai mengenal NAS dan home server, cara seperti ini justru lebih seru daripada langsung membeli semuanya dalam kondisi jadi.

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.