Sandisk mulai menunjukkan keseriusannya masuk lebih dalam ke pasar penyimpanan NAS. Perusahaan yang selama ini lebih dikenal dengan produk flash storage tersebut memperkenalkan lini SANDISK NAS SSD yang memang dirancang khusus untuk perangkat Network Attached Storage.
Ada dua produk yang diperkenalkan, yaitu SANDISK NAS 600 SATA SSD dan SANDISK NAS 800 NVMe SSD. Keduanya diumumkan pada 20 Agustus 2026 dan mulai dipasarkan pada September 2026. Targetnya bukan hanya pengguna rumahan, tetapi juga prosumer, kreator, hingga bisnis kecil yang menjalankan NAS selama 24 jam.
Menurut saya, kehadiran lini ini cukup menarik. Selama ini kalau berbicara storage NAS, perhatian kita biasanya langsung tertuju pada HDD seperti WD Red, Seagate IronWolf, atau SSD yang sekadar dipasang sebagai cache.
Sekarang Sandisk justru mulai mendorong penggunaan SSD sebagai bagian utama dari sistem NAS.
Lalu pertanyaannya: apa bedanya SSD NAS Sandisk dengan SSD biasa yang kita pasang di PC atau laptop?
Sandisk Memperkenalkan NAS 600 dan NAS 800
Sandisk membagi lini SSD NAS barunya menjadi dua kelas.
SANDISK NAS 600 menggunakan form factor SSD SATA 2,5 inci. Drive ini lebih mudah digunakan pada NAS yang sebelumnya memakai HDD SATA, baik sebagai storage utama, storage tier, maupun SSD cache.
Sedangkan SANDISK NAS 800 menggunakan format M.2 2280 NVMe dengan interface PCIe 5.0. Model ini ditujukan untuk NAS kelas lebih tinggi, terutama all-flash NAS, caching berkecepatan tinggi, virtualisasi, database, hingga workload yang membutuhkan I/O besar.
Spesifikasi garis besarnya seperti berikut.
| Spesifikasi | SANDISK NAS 600 | SANDISK NAS 800 |
|---|---|---|
| Interface | SATA III | PCIe 5.0 NVMe |
| Form Factor | 2,5 inci / 7 mm | M.2 2280 |
| Kapasitas | 500 GB – 4 TB | 960 GB – 7,68 TB |
| Sequential Read | hingga 560 MB/s | hingga 14.900 MB/s |
| Sequential Write | hingga 520 MB/s | hingga 13.200 MB/s |
| Endurance | hingga 2.500 TBW | hingga 14 PBW |
| Garansi | 5 tahun | 5 tahun |
Angka performa berbeda tergantung kapasitas masing-masing model.
NAS 600 mungkin terlihat seperti SSD SATA biasa jika hanya melihat kecepatan sekitar 560 MB/s. Tetapi justru bukan kecepatan maksimum yang menjadi pembeda utamanya.
Yang lebih penting adalah endurance dan karakter workload yang menjadi target SSD tersebut.
SSD NAS Dibuat untuk Bekerja 24/7
Ini menjadi perbedaan paling mudah dipahami.
SSD consumer pada umumnya dirancang untuk penggunaan PC atau laptop. Beban kerjanya biasanya naik turun. Komputer digunakan beberapa jam, masuk sleep, shutdown, lalu digunakan kembali keesokan harinya.
NAS punya karakter yang berbeda.
NAS bisa menyala 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, menangani akses dari beberapa pengguna sekaligus, menjalankan backup otomatis, sinkronisasi file, database, container, virtual machine, media server, hingga aktivitas baca-tulis lainnya secara terus-menerus.
Sandisk secara khusus menyebut NAS SSD miliknya sebagai drive yang dirancang untuk lingkungan NAS 24/7 dan workload multi-user.
Jadi bukan sekadar masalah apakah sebuah SSD “bisa” dipasang ke NAS.
SSD biasa tentu saja bisa digunakan pada banyak NAS.
Pertanyaannya justru: seberapa cocok SSD tersebut menghadapi pola kerja NAS dalam jangka panjang?
Endurance Jauh Lebih Diperhatikan
Salah satu angka yang menurut saya paling menarik adalah TBW atau Terabytes Written.
TBW menunjukkan jumlah data yang secara teoritis dapat ditulis ke SSD selama masa endurance yang ditentukan produsennya.
SANDISK NAS 600 memiliki endurance:
- 500 GB: 350 TBW
- 1 TB: 600 TBW
- 2 TB: 1.300 TBW
- 4 TB: 2.500 TBW
Model 4 TB misalnya mempunyai rating hingga 2.500 TBW.
NAS 800 bahkan jauh lebih ekstrem. Model tertingginya, 7,68 TB, mempunyai endurance hingga 14 PBW.
PBW berarti Petabytes Written.
Satu PBW sama dengan 1.000 TBW, sehingga rating 14 PBW menunjukkan bahwa drive ini memang disiapkan untuk workload tulis yang sangat tinggi.
Untuk penggunaan NAS sebagai cache, database, virtual machine atau storage multi-user, endurance seperti ini jauh lebih relevan dibanding sekadar mengejar angka benchmark tertinggi.
Dirancang untuk Multi-Drive dan RAID
NAS hampir selalu identik dengan penggunaan beberapa drive sekaligus.
Kita bisa menggunakan RAID 1, RAID 5, RAID 6, RAID 10 atau konfigurasi lainnya tergantung NAS yang digunakan.
SANDISK NAS 600 secara khusus dirancang untuk bekerja dalam lingkungan multi-drive dan RAID, dengan fokus pada performa yang konsisten untuk NAS yang bekerja terus-menerus.
Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa memilih drive yang memang dibuat untuk NAS lebih menarik jika sistem tersebut menyimpan data penting.
Bukan berarti SSD consumer langsung rusak ketika dipasang RAID. Hanya saja SSD NAS sejak awal memang dirancang dan diuji dengan skenario penggunaan tersebut sebagai salah satu targetnya.
NAS 600 Bisa Jadi Pengganti HDD
Menurut saya, SANDISK NAS 600 justru menjadi produk yang paling menarik untuk pengguna home server.
Bentuknya SSD SATA 2,5 inci sehingga relatif mudah digunakan pada NAS yang memiliki SATA drive bay.
Sandisk sendiri menawarkan drive ini sebagai opsi untuk:
menggantikan HDD, membuat all-flash NAS, menambahkan storage tier berkecepatan tinggi, atau digunakan sebagai SSD cache.
Kecepatan sequential read-nya mencapai sekitar 560 MB/s.
Memang tidak sekencang NVMe, tetapi dibanding HDD NAS konvensional, ada beberapa keuntungan lain.
Tidak ada suara putaran platter, tidak ada getaran mekanis, latency jauh lebih rendah, random I/O lebih tinggi, dan konsumsi ruang juga lebih kecil.
Untuk NAS yang ditempatkan di meja kerja atau bahkan kamar, all-flash NAS tentu menarik karena sistem bisa menjadi jauh lebih senyap.
NAS 800 Bisa Tembus 14.900 MB/s
Kalau NAS 600 masih terasa cukup “normal”, NAS 800 berada di level yang berbeda.
SANDISK NAS 800 menggunakan PCIe 5.0 NVMe dan menawarkan kecepatan sequential read hingga sekitar 14.900 MB/s serta sequential write hingga 13.200 MB/s pada model tertentu.
Random read/write-nya bahkan mencapai sekitar 2,3 juta / 2 juta IOPS pada varian 3,84 TB.
Kapasitasnya tersedia mulai:
960 GB, 1,92 TB, 3,84 TB hingga 7,68 TB.
Sandisk menggunakan TLC 3D NAND pada lini NAS 800. Drive ini ditujukan untuk workload seperti virtualisasi, database, content creation, caching, storage tiering, hingga workload AI lokal.
Tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan.
NAS dengan SSD 14 GB/s tidak otomatis membuat transfer file dari laptop menjadi 14 GB/s.
Kecepatan akhirnya tetap bergantung pada jaringan.
NAS yang masih menggunakan Gigabit Ethernet misalnya secara teori hanya memiliki bandwidth sekitar 125 MB/s. Bahkan 10GbE pun secara teori berada di kisaran 1,25 GB/s sebelum memperhitungkan overhead.
Karena itu performa NVMe sekelas NAS 800 lebih terasa pada workload internal NAS, banyak pengguna yang mengakses bersamaan, database, virtual machine, cache, atau NAS dengan koneksi jaringan jauh lebih cepat.
Jadi jangan hanya terpancing angka 14.900 MB/s.
Lalu Apa Bedanya dengan SSD Biasa?
Kalau disederhanakan, perbedaannya kurang lebih seperti ini.
| SSD Consumer | SSD NAS |
|---|---|
| Fokus PC dan laptop | Fokus NAS |
| Workload penggunaan normal | Workload 24/7 |
| Biasanya single drive | Dirancang untuk multi-drive/RAID |
| Endurance menyesuaikan workload consumer | Endurance tinggi menjadi prioritas |
| Fokus performa desktop | Fokus performa konsisten dan reliabilitas NAS |
| Umumnya satu pengguna | Bisa menangani workload multi-user |
Sandisk sendiri menjelaskan bahwa NAS SSD dirancang untuk menghasilkan performa yang konsisten, endurance tinggi dan reliabilitas pada lingkungan NAS 24/7, sedangkan SSD consumer ditujukan untuk PC dan pola penggunaan normal.
Ini menurut saya menjadi poin yang paling penting.
Jangan melihat SSD NAS hanya dari angka kecepatan.
Pada NAS, ketahanan terhadap workload tulis yang tinggi dan kemampuan bekerja konsisten dalam jangka panjang justru jauh lebih penting.
Apakah SSD Consumer Tidak Boleh Dipakai untuk NAS?
Boleh.
Ini juga perlu saya tekankan supaya tidak muncul kesan bahwa NAS wajib memakai SSD khusus NAS.
Untuk home server sederhana dengan aktivitas baca-tulis ringan, SSD consumer yang bagus masih sangat mungkin digunakan.
Misalnya NAS hanya dipakai menyimpan dokumen pribadi, foto keluarga, backup mingguan atau sebagai media server rumahan.
Namun kebutuhan akan drive khusus NAS mulai masuk akal jika sistem menjalankan banyak aktivitas tulis, digunakan beberapa orang sekaligus, menjadi host virtual machine atau container, dipakai sebagai SSD cache, atau menyimpan data bisnis yang harus selalu tersedia.
Semakin berat workload NAS, semakin penting mempertimbangkan endurance SSD.
Sebenarnya Sandisk Sudah Punya “Warisan” WD Red
Ada konteks menarik di balik peluncuran produk ini.
SSD khusus NAS sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya asing dalam ekosistem Sandisk dan Western Digital.
Sebelumnya sudah ada WD Red SA500 NAS SATA SSD serta WD Red SN700 NVMe SSD yang memang ditujukan untuk NAS.
Bahkan pada halaman WD Red SA500 sekarang, Sandisk menyebut SANDISK NAS 600 sebagai generasi barunya.
Ini cukup masuk akal setelah bisnis flash Sandisk berdiri kembali sebagai perusahaan tersendiri. Pada awal 2026, Sandisk juga mulai memindahkan branding SSD internal seperti WD_BLACK dan WD Blue NVMe ke keluarga baru SANDISK Optimus.
Jadi saya melihat peluncuran NAS 600 dan NAS 800 bukan hanya sebagai penambahan dua SSD baru.
Ini juga menunjukkan Sandisk sedang menata ulang portofolio SSD-nya di bawah merek sendiri, termasuk untuk segmen NAS.
Harga Mulai Sekitar 180 Dolar
Saat diumumkan, Sandisk menyebut SANDISK NAS 600 500 GB memiliki harga resmi mulai US$179,99.
Sedangkan SANDISK NAS 800 960 GB dimulai dari US$309,99.
Sandisk menjadwalkan keduanya tersedia mulai September 2026 melalui situs resmi serta retailer dan e-tailer tertentu di berbagai negara.
Untuk pasar Indonesia, harga tentu bisa berbeda setelah memperhitungkan distribusi, pajak dan ketersediaan lokal.
SSD Mulai Semakin Masuk Akal untuk NAS
Menurut saya, langkah Sandisk ini juga memperlihatkan perubahan menarik pada dunia NAS.
NAS dulunya hampir selalu identik dengan HDD.
Alasannya sederhana: kapasitas HDD besar dan harga per terabyte jauh lebih murah.
Tetapi kebutuhan NAS sekarang mulai berubah. Home lab semakin populer, orang menjalankan Docker dan virtual machine di NAS, content creator mengedit file langsung dari network storage, sementara bisnis kecil membutuhkan private cloud sendiri.
SSD akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai cache.
Sekarang kita mulai melihat all-flash NAS menjadi opsi yang semakin realistis, setidaknya untuk pengguna yang lebih mengutamakan performa, latency rendah, suara minim dan ukuran perangkat yang ringkas.
HDD kemungkinan masih akan bertahan lama sebagai pilihan utama untuk penyimpanan berkapasitas besar karena harga per TB-nya jauh lebih menarik.
Namun untuk workload NAS yang membutuhkan kecepatan dan random I/O tinggi, SSD khusus NAS seperti SANDISK NAS 600 dan NAS 800 mulai mempunyai tempatnya sendiri.
Dan menurut saya, inilah bagian paling menarik dari langkah terbaru Sandisk.
Mereka tidak sekadar membuat SSD yang bisa dipasang di NAS, tetapi mulai serius membuat SSD yang memang ditujukan sejak awal untuk bekerja sebagai storage NAS.




