Indonesia memiliki beberapa merek laptop lokal yang cukup dikenal, seperti Axioo, Advan, dan Zyrex. Merek-merek tersebut juga terus meluncurkan produk baru, mulai dari laptop pelajar, laptop kerja, hingga laptop gaming.
Namun, ketika datang ke toko komputer atau melihat rekomendasi laptop di internet, konsumen masih sering memilih merek global seperti ASUS, Lenovo, Acer, HP, atau Dell. Data IDC untuk kuartal pertama 2026 bahkan menempatkan ASUS dan Lenovo sebagai dua pemimpin pasar PC di Indonesia.
Lalu, mengapa laptop buatan Indonesia masih kurang diminati?
Menurut saya, masalahnya tidak hanya terletak pada spesifikasi atau harga. Kepercayaan terhadap merek, penggunaan produk ODM, kualitas yang belum konsisten, layanan purnajual, dan nilai jual kembali ikut memengaruhi keputusan konsumen.
Apa yang Dimaksud Laptop Buatan Indonesia?
Istilah laptop buatan Indonesia perlu kita pahami secara tepat. Laptop lokal tidak selalu berarti semua komponennya diproduksi di Indonesia.
Prosesor masih bisa berasal dari Intel atau AMD. Chip grafis dapat menggunakan NVIDIA atau AMD, sedangkan RAM, SSD, layar, baterai, dan komponen lainnya mengikuti rantai pasok global.
Merek Indonesia biasanya menangani beberapa bagian, seperti pemilihan spesifikasi, perakitan, pengujian, sertifikasi, pemasaran, distribusi, garansi, dan layanan purnajual. Besarnya kegiatan produksi lokal dapat berbeda pada setiap merek dan seri.
Dalam aturan TKDN, produk dalam negeri juga tidak harus menggunakan 100 persen komponen lokal. Pemerintah menghitung kandungan dalam negeri berdasarkan unsur produksi, tenaga kerja, investasi, pengembangan, dan komponen lain yang memenuhi ketentuan. Kebijakan TKDN terbaru mengacu pada Permenperin Nomor 35 Tahun 2025.
Jadi, kita tidak bisa langsung menyebut sebuah laptop sebagai produk palsu hanya karena masih memakai komponen dari luar negeri.
Banyak Laptop Lokal Menggunakan Produk ODM
Salah satu hal yang sering dibicarakan ketika membahas laptop lokal adalah penggunaan produk ODM atau Original Design Manufacturer.
ODM merupakan perusahaan yang merancang dan memproduksi perangkat untuk dijual kembali oleh perusahaan lain dengan merek berbeda. Perusahaan pemilik merek dapat memilih desain dasar, prosesor, kapasitas RAM, SSD, layar, warna, logo, dan beberapa konfigurasi lainnya.
Skema ini memungkinkan sebuah merek meluncurkan laptop tanpa harus merancang motherboard, bodi, sistem pendingin, dan seluruh komponen dari awal. Cara tersebut dapat memangkas biaya riset sekaligus mempercepat peluncuran produk.
Penggunaan ODM sebenarnya bukan praktik yang aneh dalam industri teknologi. Masalahnya muncul ketika konsumen menemukan laptop dari beberapa merek dengan desain bodi yang sangat mirip. Perbedaan produknya mungkin hanya terletak pada logo, konfigurasi RAM, SSD, dan sistem operasi.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa laptop lokal hanya mengganti logo produk dari pabrik luar negeri.
Menurut saya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Merek tetap memegang peran penting dalam memilih kualitas produk, melakukan pengujian, menyediakan driver, mengurus garansi, dan memberikan layanan servis.
Produk ODM yang dipilih dengan standar tinggi tetap dapat menghasilkan laptop bagus. Sebaliknya, produk ODM murah dengan kontrol kualitas rendah dapat merusak kepercayaan konsumen terhadap merek lokal secara keseluruhan.
Kepercayaan Konsumen Sudah Dikuasai Merek Global
Laptop bukan barang yang dibeli setiap bulan. Banyak orang memakai satu laptop selama tiga sampai lima tahun, bahkan lebih.
Karena itu, konsumen cenderung memilih merek yang sudah mereka kenal. Mereka melihat pengalaman teman, ulasan pengguna, ketersediaan pusat servis, hingga reputasi produk generasi sebelumnya.
Merek global memiliki keuntungan besar karena sudah membangun reputasi tersebut selama bertahun-tahun. Konsumen juga lebih mudah menemukan ulasan jangka panjang, tutorial perbaikan, aksesori, driver, dan komunitas pengguna.
Sementara itu, laptop buatan Indonesia masih harus membuktikan bahwa produknya dapat bekerja stabil dalam jangka panjang.
Harga Murah Belum Tentu Langsung Menarik
Laptop lokal sering menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga kompetitif. Konsumen bisa mendapatkan RAM besar, SSD lega, layar IPS, atau prosesor yang cukup bertenaga dengan anggaran lebih rendah.
Sayangnya, angka spesifikasi bukan satu-satunya pertimbangan.
Konsumen juga memperhatikan kualitas engsel, kekuatan bodi, kenyamanan keyboard, akurasi warna layar, suhu perangkat, suara kipas, daya tahan baterai, dan kualitas adaptor.
Dua laptop dengan prosesor dan kapasitas RAM yang sama belum tentu memberikan pengalaman penggunaan yang sama. Optimalisasi sistem pendingin, batas daya prosesor, kualitas panel, dan pengaturan firmware dapat menghasilkan performa berbeda.
Karena itu, harga murah belum cukup untuk mengalahkan rasa aman yang ditawarkan merek besar.
Kualitas Antarseri Belum Selalu Konsisten
Satu merek bisa memiliki seri laptop yang sangat bagus, tetapi juga memiliki seri lain yang kurang menarik. Hal ini sebenarnya dapat terjadi pada merek mana pun.
Namun, dampaknya terasa lebih besar pada merek lokal. Satu pengalaman buruk dapat memperkuat stigma bahwa semua laptop Indonesia memiliki kualitas rendah.
Keluhan seperti engsel longgar, baterai cepat menurun, bodi terasa tipis, driver sulit ditemukan, atau layar kurang bagus dapat bertahan lama di pikiran konsumen. Padahal, generasi produk terbaru mungkin sudah mengalami banyak perbaikan.
Merek lokal perlu menjaga kualitas secara konsisten agar konsumen tidak merasa sedang mengambil risiko ketika membeli produknya.
Layanan Purnajual Masih Menjadi Pertimbangan
Sebelum membeli laptop, sebagian konsumen akan bertanya: bagaimana kalau perangkatnya rusak?
Mereka ingin mengetahui lokasi pusat servis, lama pengerjaan, ketersediaan suku cadang, prosedur garansi, dan biaya perbaikan setelah masa garansi berakhir.
Merek global biasanya memiliki jaringan servis, mitra teknisi, dan distribusi komponen yang lebih luas. Kondisi ini memberi rasa aman, terutama bagi konsumen di luar kota besar.
Merek lokal sebenarnya sudah mulai memperbaiki bagian ini. Axioo menyediakan layanan pencarian service center dan registrasi garansi, sedangkan Zyrex menyediakan halaman driver, pengecekan garansi, dan informasi pusat servis pada situs resminya.
Namun, merek lokal tetap perlu memastikan bahwa kualitas layanan tersebut merata di berbagai daerah.
Pilihan Produk Belum Seluas Merek Besar
Konsumen memiliki kebutuhan yang semakin beragam. Ada yang mencari laptop bisnis ringan, laptop gaming, perangkat untuk desain, laptop dengan baterai panjang, workstation, laptop premium, atau perangkat dengan layanan servis khusus perusahaan.
Merek global dapat menawarkan banyak seri untuk setiap kebutuhan tersebut. Mereka juga rutin memperbarui produknya ketika Intel, AMD, NVIDIA, atau Microsoft meluncurkan teknologi baru.
Merek lokal mulai memperluas pilihannya. Advan menawarkan produk untuk kebutuhan belajar, bekerja, hingga gaming, sementara Axioo juga memiliki lini produktivitas dan gaming. Zyrex melayani pasar konsumen, pendidikan, bisnis, serta pemerintahan.
Meski begitu, pilihan model, konfigurasi, dan kelas harga yang tersedia belum selalu seluas merek internasional.
Nilai Jual Kembali Cenderung Lebih Rendah
Sebagian pembeli juga memikirkan harga jual kembali. Laptop merek terkenal biasanya lebih mudah dijual karena calon pembeli sudah mengenal nama dan seri produknya.
Laptop lokal terkadang memiliki pasar barang bekas yang lebih kecil. Calon pembeli juga lebih berhati-hati karena sulit menemukan informasi mengenai ketahanan, harga komponen, atau riwayat masalah pada seri tertentu.
Akibatnya, pemilik mungkin harus menjual laptop lokal dengan harga lebih rendah agar cepat laku. Hal ini kemudian menjadi pertimbangan tambahan ketika konsumen membeli laptop baru.
Pasar Pemerintah Tidak Sama dengan Pasar Konsumen
Kebijakan TKDN dan program penggunaan produk dalam negeri membuka peluang besar bagi produsen laptop lokal. Produk bersertifikat dapat masuk ke segmen pemerintahan, sekolah, perusahaan milik negara, dan pengadaan institusi.
Pemerintah juga terus mendorong investasi, produksi lokal, penelitian, dan pengembangan melalui kebijakan TKDN.
Namun, keberhasilan dalam pengadaan pemerintah tidak otomatis membuat sebuah merek populer di pasar konsumen.
Pasar ritel bekerja secara berbeda. Konsumen menggunakan uang sendiri sehingga mereka lebih bebas membandingkan kualitas, desain, harga, reputasi, garansi, dan nilai jual kembali.
Produsen lokal tetap perlu memenangkan kepercayaan konsumen secara alami, bukan hanya mengandalkan kebijakan pengadaan.
Apakah Laptop Buatan Indonesia Tidak Layak Dibeli?
Tentu saja tidak demikian.
Laptop lokal dapat menjadi pilihan menarik ketika menawarkan spesifikasi sesuai kebutuhan, harga kompetitif, garansi jelas, pusat servis yang mudah dijangkau, dan ulasan pengguna yang baik.
Saya lebih menyarankan pembeli menilai produk berdasarkan serinya, bukan hanya berdasarkan asal merek. Periksa kualitas layar, sistem pendingin, kapasitas baterai, kemudahan upgrade, dukungan driver, garansi, dan pengalaman pengguna lain.
Laptop ODM juga tidak otomatis buruk. Hal yang lebih penting adalah kualitas platform ODM yang dipilih, kontrol kualitas pemilik merek, serta keseriusan perusahaan dalam menyediakan layanan setelah produk terjual.
Apa yang Perlu Dilakukan Produsen Laptop Lokal?
Produsen lokal perlu membangun kepercayaan melalui langkah nyata. Mereka harus menjaga konsistensi kualitas, menyediakan driver dalam jangka panjang, memperluas pusat servis, menjamin ketersediaan komponen, dan memberikan prosedur garansi yang sederhana.
Merek lokal juga perlu menciptakan identitas produk yang lebih kuat. Jangan hanya mengandalkan spesifikasi besar dan harga murah. Desain yang khas, perangkat lunak pendukung, layanan pelanggan yang responsif, serta pengujian produk yang transparan dapat menjadi pembeda.
Selain itu, produsen perlu mendorong ulasan jangka panjang. Konsumen tidak hanya ingin mengetahui performa laptop saat baru dibuka, tetapi juga kondisinya setelah dipakai selama satu atau dua tahun.
So, Apakah Tertarik Untuk Pakai Produk Lokal?
Laptop buatan Indonesia belum menjadi pilihan utama bukan semata-mata karena kualitasnya buruk. Penggunaan produk ODM, kepercayaan terhadap merek global, konsistensi kualitas, jaringan servis, pilihan produk, dan nilai jual kembali ikut memengaruhi keputusan pembeli.
ODM sendiri bukan masalah selama produsen lokal memilih platform berkualitas dan menjalankan kontrol yang ketat. Tantangan terbesarnya justru terletak pada kemampuan merek untuk memberikan pengalaman yang konsisten dari pembelian hingga layanan purnajual.
Menurut saya, laptop lokal memiliki peluang besar untuk berkembang. Namun, produsen tidak cukup hanya menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga murah. Mereka harus membuat konsumen merasa aman, percaya, dan bangga ketika memilih produk Indonesia.




